Tadi malam aku curhat lagi denganmu Cak, di alam maya. Entah mengapa kali ini bicara soal beberapa tantangan yang sedang atau pernah kita alami dalam bidang kerja masing-masing. Kita terbelit atas persaingan kepentingan yang mungkin berbeda namun ujungnya serupa, mammon. Engkau dulu sukses di bidang studimu namun menemukan kesempatan kerja di bidang bebeda. Kamu lalu menganggapnya menjadi tantangan, dan ”berhasil” berprestasi dalam bidang yang berbeda itu. Sayangnya pengakuan prestasimu seringkali mencederai langkah kesuksesanmu. Kau merasa dirimu stuck di tempat yang tidak semestinya. Atas nama legitimasi keahlian dalam bidangnya engkau seringkali merasa dipecundangi dalam meraih sukses yang lebih. Nasihat bodohku berkata: ”jangan berhenti melihat sangkarmu di dalam. Mungkin suksesmu bukan di sana. Kamu bisa mundur selangkah untuk maju dua tiga langkah”. Ah, aku mungkin kurang bisa menyelami situasimu dengan baik Cak, tapi tetaplah konsisten melakukan kebaikan dan yang terbaik. Pembicaraan kita menyeretku membongkar luka yang kupendam. Sama sepertimu, dulu aku juga seseorang yang cemerlang di bidangnya. Bidang yang langka, idealis, dan penuh tantangan pesan kemanusiaan di dalamnya. Aku justu mencoba membangun sukses bersama beberapa teman yang membangun menara gading ideologis dalam bidangku. Bersama beberapa senior-senior, kolega-kolega, mantan-mantan tutor profesionalku di masa lalu, kami senantiasa menjaga jaringan ini tetap utuh dalam mengusung idealisme kami. Sayangnya, saat bicara kesempatan dan mammon, semua bisa berbeda. Aku mulai melihat idealisme kami banyak diruntuhkan. Sikap egaliter yang dulu kukagumi dan semula diusung bersama mulai diabaikan. Dan, yang tidak kusuka adalah seolah harus selalu menjadi subordinat mereka dalam banyak hal. Sudah terlalu lama aku bertahan dalam tidak nyamanan itu sampai akhirnya lahir keputusan untuk melangkah keluar. Di satu sisi melegakan, di sisi lain masih membuat aku gamang. Sekian lama mengusung idealisme bersama cukup membuatku terikat.
Cak, persoalanku dan persoalanmu mungkin mirip. Ada perasaan dipecundangi oleh dua alasan yang saling bertolak belakang. Yang satu terkendala di bidang berbeda yang lain justru di bidangnya sendiri. Apapun dua-duanya mau tidak mau telah menorehkan luka di dalam. Luka itu bisa saja diambil menjadi tantangan untuk bisa melangkah maju, nasihatku sok bijak.
”Nampaknya lukamu sudah berkarat ya” katamu, saat terpancing membongkar persoalan ini. Akupun tertawa sedih. Lalu dengan bercanda menjawab, ”Aku ingin membongkar semua Cak, padamu. Semua ini memang harus dibongkar lalu dibuang ke tong sampah. Agar jangan lagi merintangi langkah kehidupanku, dan aku bisa tersenyum lega pada dunia”.
Cak, mungkin kau benar. Tadi malam dalam mimpi, aku dibawa menemukan satu ruang di sudut belakang hatiku. Itu adalah tempat barang-barang tersimpan yang tersembunyi, ibarat sebuah attic. Di sana aku menemukan ada bangkai tersembunyi berbelatung. Lalu aku bertekad, aku harus membongkar, membuang, dan kemudian membakarnya. Agar udara segar masuk kembali memenuhi hatiku.
The deepest hunger of the human soul is to be understood, To feel heard, to feel validated ... The deepest hunger of the human body is for air. If you can listen to another person, In depth, Until they feel understood, Its the equivalent of giving them air. ~~Steven Covey~~

No comments:
Post a Comment